Malam ini Ku Coba melakukan
refleksi psikologi dari sebuah catatan sejarah pada kurang lebih 365 hari yang silam.. yah pada suatu pertemuan di salah
satu media sosial yang nge-trend dikalangan muda-mudi.
Ketika Ku tak Lupa..Kala itu iseng kukomentari
status seorang kawan, dan tak lama berselang kawan dari kawankupun ikut
berkomentar pada sebuah status yang Ahh.. sudah kulupa tema dari status
tersebut..
Kontalasi idekupun saat itu
berpaling dan tak berkonsentrasi lagi pada status kawanku yang kukomentari,
tetapi sentralisasi mata,hati, dan fikiranku berfokus pada satu titik yang kuanggap
menawan pada tampilan foto profil kawan dari kawanku tersebut.
Kujalankan Ideopol Stratak yang
kupunya sembari berbasa-basi dengan tujuan sederhana (Menarik perhatian dan
konsentrasi kawan dari kawanku untuk terhanyut dalam konsentrasi yang kubangun.
Stratak yang coba ku usungpun
mujarab hingga Ketika Ku tak lupa saat itu langsung kupinta No Contak Kawan
dari kawanku itu melalui kawanku sendiri, ketika aku tak lupa lagi saat itupun
kucoba lakukan follow up dari komunikasi sederhana diawal senggamah canda
status kawanku lewat media komunikasi seluler agar kutemukan titik singgung
keabraban kawan dari kawanku.
Ya..ya..ya... lagi-lagi Stratak-Ku
berhasil.. komukasi yang kubangun cukup efektif, kausalitas tersebut didukung
oleh sosoknya yang komunikatif, agresif, dan lumayan heboh.. sehingga titik
singgung keakrabanpun mulai terbangun.
Detik, Menit, Jam, serta hari
demi-hari berlalu, ketika aku tak lupa bina suasanapun makin harmonis. Niatan awal
untuk melakukan silaturahmi humanis juga berpaling pada orentasi silaturahmi
batin, hukum aksi reaksi perhatianpun sahut-menyahut, sapa-menyapa serta
balas-membalas, entah apa yang menjadi Kausa reaksi tersebut bahkan rotasi waktupun
tak mampu memberikan sanggahan dan menjawab proses waktu silaturahmi batin itu
berlangsung begitu cepat.
Sampai dalam suatu waktu yang
ketika aku tak lupa sengaja kubuat moment pertemuan untuk dapat melihat wujud
materi dari rupa yang rupawan itu,, yah.. tak lain rupa kawan dari kawanku yang
menjadi mediator tunggal perkenalanku saat itu.
Ketika aku tak lupa lagi,, moment
pertemuan tersebut berlangsung pada salah satu tempat makan produk kapitalis
yang berlokasi di Perempatan Jalan Hasanuddin..
Suasana komunikasi saat itu menjadi
vakum dan tidak produktif antara aku dan kawan dari kawanku, yah.. mungkin masih
dalam kondisi yang kalau tak lupa dalam istilah anak gaul disebut “JAIM”.. yah
tak apalah asalkan aku dapat menikmati pesona rupawannya secara langsung dan
sambil melakukan komunikasi pribadi dalam batinku “Aku tak salah berkenalan”..
suatu rasa kesyukuran yang kupanjatkan sendiri.. tapi firasatku juga saat itu
mungkin IA juga melakukan komunikasi yang sama dalam batinnya.. yah. Itupun sekali
lagi ketika aku tidak salah.
Rotasi waktu kurasakan begitu cepat
saat itu, sampai moment indah kali itu harus di intrupsi oleh dering seluler
kawan dari kawanku yang mengisyaratkan bahwa Ia harus segera bergegas
meninggalkan forum silaturahmi perdana kami.
Kembali rotasi waktu memutar dan
grafitasi semesta makrokosmospun berjalan mengiringi suasana insting eros untuk
dapat saling merapatkan perasaan, hingga ketika aku Tak lupa subuh itu dalam
momentum Indah Ramadhan melalui komunikasi pesan singkat media seluler hadirlah
grafitasi tarik menarik diantara aku dan kawan dari kawanku untuk melegalkan
silaturahmi batin ini dengan satu ikatan kesepakatan non formal untuk saling
menjaga dan membuat hukum aksi-reaksi dalam bentuk perhatian dan kasih sayang..
Begitulah Refleksi Romantika Itu
Ketika Aku Tak Lupa,,
Tetapi Sampai Detik ini, Aku Tak
Akan Pernah Lupa Akan Sosok Indah Kawan dari Kawanku Serta Kawanku Itu Sendiri
Yang Menjadi Mediator Tunggal Pertemuan Kami.
Bulukumba, 9 September 2012



Tidak ada komentar:
Posting Komentar