Social Icons

Beranda

Rabu, 01 Februari 2012

INDIVIDU DAN MASYARAKAT

I.Individu

Secara etimologis istilah individu berasal dari bahasa latin yaitu individum yang berarti satuan terkecil yang tidak dapat dibagi lagi. Secara sosiologi, individu dapat diartikan sebagai manusia perseorangan yang hidup sendiri tak berkawan. Individu adalah pribadi yang mempunyai pikiran atas kepentingan yang bersifat subyektif. Individu dalam konsep sosiologis dapat dirumuskan secara terbatas sebagai jumlah keseluruhan pengalaman, pandangan, pikiran dan segenap tindakan-tindakan seseorang yang kemudian membentuk dan mewarnai ciri-ciri pribadinya.

Alvin L. Bertrand memandang individu sebagai kedirian. Secara obyektif, kedirian (self) dapat dikatakan sebagai kesadaran terhadap diri sendiri dan memandang adanya pribadi di luar dirinya. Pada hakekatnya, kesadaran itulah yang mendorong timbulnya sebutan “aku” atau “saya”. Kedirian yang subyektif itu, tidaklah mudah dipelajari, meskipun oleh orang yang mempunyai diri itu sendiri, sebab tidak seorangpun yang dapat meninjau dirinya sendiri secara obyektif seratus persen. Charles H. Cooley menjelaskan bahwa nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang, seperti yang berwujud cita-cita, sikap dan kesetiaan, merupakan salah satu dimensi dari kedirian, yaitu kedirian subyektif. Bila nilai-nilai tersebut diterima oleh orang bersangkutan dari orang-orang lain, itulah yang disebut dimensi kedirian obyektif, maksudnya adalah jika pada waktu tertentu seseorang pribadi berperilaku menurut harapan orang lain, berarti individu tadi telah memandang dirinya dalam dimensi obyektif. Untuk menemukan suatu kesadaran social,  individu senantiasa memandang orang lain sebagai konsep tentang diri sendiri. Oleh karena itu, untuk menghilangkan pertentangan antar pribadi atau konflik dalam kehidupan masyarakat, seseorang harus mampu melihat dirinya sebagaimana orang lain, atau melihat orang lain seperti diri sendiri.

George H. Mead dikutip oleh Bertrand membagi juga kedirian menjadi dua dimensi. Pertama, dimensi aku sebagai obyek (me). Dimensi ini mempertimbangkan sikap-sikap orang lain dan merupakan bagian yang pasif dan konvensional dari kedirian seseorang. Kedua, dimensi subyektif (I), merupakan bagian yang aktif dan kreatif berbuat mempengaruhi dan bukannya dipengaruhi oleh masyarakat.

Cooley menganalisis dimensi individu dengan teori cermin, yang terdiri dari 3 langkah yang dijalani oleh seseorang individu untuk menerima konsepsi kediriannya dari orang-orang lain. Langkah-langkah ini meliputi :

  1. Imajinasi tentang pendapat orang lain terhadp diri seseorang, seperti bagaimana pakaian dan perilakunya terhadap orang lain,
  2. Imajinasi terhadap penilaian orang lain terhadap yang terdapat pada masing-masing orang, seperti mengenai ketinggalan zaman,
  3. Seperti merasa seseuatu, misalnya bangga, kecewa, gembira, atau rendah diri yang timbul sebagai akibat imajinasi diri sendiri sehubungan dengan penangkapan masing-masing orang terhadap kata orang-orang lain yang ditujukan padanya.

George H. Mead menyatakan bahwa hakekat pribadi/individu terbentuk dari tanggapan yang berasal dari orang-orang lain., Karena itu, identitas merupakan suatu gejala sosial yang mempunyai ciri-ciri tetap maupun situasional. Ciri-ciri tetap yang bersifat stabil diperoleh dari tanggapan orang lain yang bersifat terus menerus, sedangkan variasi situasional diperoleh dari peranan seseorang yang kemungkinan mengalami perubahan-perubahan.

Setiap individu dalam hidupnya mempunyai akal pikiran (rasio) dan perasaan (emosi). Akal pikiran pribadi berfungsi sebagai penggerak dalam setiap usahanya mengembangkan diri, seperti usaha meraih cita-cita atau usaha mengatasi berbagai masalah dalam perjalanan hidupnya. Dengan akal pikiran individu dapat berkarya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Unsur perasaan atau emosi merupakan suara nurani manusia yang berfungsi sebagai alat untuk menangkap atau menilai hasil karya; seperti rasa suka terhadap benda-benda, rasa bahagia atas keberhasilan usaha, atau dapat berupa perasaan cinta terhadap alam atau sesama. Masing-masing individu mempunyai perasaan yang berbeda-beda sesuai dengan selera dan kepentingan pada waktu tertentu. Perasaan dapat juga ditinjau dari sudut fisik, seperti perasaan sedap terhadap makanan tertentu, rasa panas sengatan matahari, atau rasa sakit terhadap tubuh sendiri.

Individu sesungguhnya terdiri dari tiga fase, yaitu;

  1. Fase persepsi, yaitu apa yang dilihat orang lain dalam kepribadian atau tingkah laku
  2. Fase penafsiran, yaitu bagaimana orang lain menilai dari apa yang dilihat dalam diri seseorang
  3. Identifikasi diri, yaitu pengembangan sejumlah sikap tentang diri sendiri berdasarkan jawaban atau tanggapan orang lain, seperti sombong, murah hati, pemarah, dan lainnya.

Individu yang tergabung secara kolektivitas, secara sosiologi sering dinamakan kelompok masyarakat.


II.Masyarakat

Masyarakat adalah wadah hidup bersama dari individu-individu yang terjalin dan terikat dalam hubungan interaksi dan interelasi sosial. Dalam studi masyarakat, individu tidak dipandang sebagai orang tersendiri tanpa hubungan dengan individu lain. J.L. Gillin, menamakan masyarakat sebagai kelompok manusia terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Menurut Aguste Comte, masyarakat merupakan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan realitas-realitas baru yang berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri dan berkembang menurut pola perkembangan tersendiri. Masyarakat dapat membentuk kepribadiannya yang khas bagi manusia, sehingga tanpa adanya kelompok, manusia tidak akan mampu untuk berbuat banyak dalam kehidupannya.

Hassan Shadily mendefinisikan masyarakat sebagai golongan besar atau kecil dari beberapa manusia yang dengan atau sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama lain. Kemudian Ralph Linton mengemukakan bahwa masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka dapat mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya dalam satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.

Ciri-ciri masyarakat dalam suatu bentuk kehidupan menurut Soerjono Soekanto adalah;

  1. Manusia yang hidup bersama. Dalam ilmu sosial tidak ada ukuran mutlak atau angka yang pasti untuk menentukan besar jumlah manusia yang harus ada, akan tetapi secara teoritis, angka minimumnya adalah dua orang hidup bersama.
  2. Bercampur untuk waktu yang lama. Indikatornya ketika mereka berkembangbiak dengan melahirkan manusia-manusia baru. Sebagai akibat hidup bersama dalam waktu yang lama, timbullah sistem komunikasi dan timbullah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antar manusia dalam kelompok tersebut.
  3. Merupakan suatu kesatuan. Timbul kesadaran bersama bahwa masalah harus diselesaikan secara bersama dengan prinsip membantu satu sama lain.
  4. Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem hidup bersama menimbulkan kebudayaan, oleh karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan lainnya.

Secara singkat, kumpulan individu baru dapat disebut sebagai masyarakat jika telah memenuhi empat syarat utama, yaitu:

  1. Dalam kumpulan manusia harus ada ikatan perasaan dan kepentingan.
  2. Mempunyai tempat tinggal atas daerah yang sama dan atau mempunyai kesatuan ciri kelompok tertentu.
  3. Hidup bersama dalam jangka waktu yang lama
  4. Terdapat aturan atau hukum yang mengatur perilaku mereka dalam mencapai tujuan atau kepentingan bersama.

Dengan demikian, berarti masyarakat bukan sekedar kumpulan manusia tanpa ikatan, akan tetapi terdapat hubungan fungsionalantara satu dengan lainnya. Menurut Mac Iver, didalam masyarakat terdapat duatu sistem cara kerja dan prosedur dari pada otoritas dan saling bantu membantu yang meliputi kelompok-kelompok dan pembagian-pembagian sosial lain, sistem dari pengawasan tingkah laku manusia dan kebebasan.

Sebagaimana hubungan individu dalam masyarakat yang pada hakekatnya merupakan hubungan fungsional, sekaligus sebagai kolektiva yang terbuka dan saling ketergantungan satu dengan lainnya. Individu dalam hidupnya senantiasa menghubungkan kepentingan dan kepuasannya pada orang lain.

Charles H. Cooley menamakannya sebagai ”the looking glass self”, yaitu perkembangan kesadaran diri sendiri sebagai pencerminan dari pandangan-pandangan orang lain. Manusia akan tertarik kepada hidup bersama dalam masyarakat karena didorong oleh beberapa faktor, yaitu;

  1. Hasrat yang berdasar naluri (kehendak biologis yang diluar penguasaan akal) utnuk mencari teman hidup, pertama untuk memenuhi kebutuhan seksual yang sifatnya biologis sebagaimana terdapat untuk semua makhluk hidup. Pemenuhan kebutuhan seks ini kemudian diikat oleh suatu perkawinan yang sah sebagai manusia beradab dan beragama. Ikatan ini kemudian disebut sebagai keluarga, dari keluarga-keluarga yang terbentuk kemudian menjadi kelompok-kelompok sosial yang disebut masyarakat.
  2. Kelemahan manusia selalu mendesak untuk mencari kekuatan bersama, yang terdapat dalam berserikat dengan orang lain, sehingga dapat berlindung bersama-sama.
  3. Karena manusia termasuk zoon politikon, yaitu makhluk sosial yang hanya menyukai hidup bergolongan, atau sedikitnya mencari teman untuk hidup bersama, lebih suka dari pada hidup sendiri.
  4. Karena manusia memiliki perbedaan yang terdapat dalam sifat, kedudukan, dan peranan. Menggabungkan perbedaan-perbedaan akan melahirkan kekuatan bersama untuk menghadapi bahaya.

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antar manusia yang terikat dalam kesatuan kelompok masyarakat itu terdapat banyak variasi kejadian, seperti solider dan kebencian. Kompleksitas kejadian ini dalam sosiologi disebut proses mengikat, mendekati, dan bersatu; adapula yang disebut proses perpisahan.

Konsekuensi hidup bersama memang menghilangkan sebagian kemerdekaan individu, seolah-olah masyarakat memaksa individu untuk mengakui kekuasaannya. Dengan demikian dalam masyarakat, sifat manusia secara individual menjadi terpendam dan terintegrasi dalam sifat masyarakat. Integrasi sosial merupakan kesatuan hubungan yang bersifat fisik dan komunikatf sekaligus merupakan pengemabangan sikap solidaritas dan perasaan manusiawi. Hal ini merupakan dasar dari keselarasan derajat manusia dalam kehidupan masyarakat.

Integrasi individu kedalam masyarakat juga didorong oleh kekuatan faktor toleransi dan tolong menolong. Toleransi merupakan sikap bersedia untuk mengalah atau menerima ide dan pendirian pihak lain untuk suatu kompromi. Sebagai makhluk sosial, manusia dilahirkan sudah mempunyai dua hasrat yaitu, hasrat untuk hidup bersama dan hasrat untuk bersatu dengan suasana alam sekitar.

Integrasi manusia dalam kelompok dapat dicapai jika memenuhi beberapa syarat, yaitu;

  1. Anggota kelompok merasa berhasil mengisi kebutuhan antara satu dengan lainnya
  2. Tercapainya suatu konsensus mengenai norma-norma dan nilai-nilai sosial
  3. Norma-norma cukup lama dan konsisten tidak ada perubahan.

Dalam integrasi tersebut, terdapat corak dan arah hubungan individu dan masyarakat, yaitu; individu memiliki status yang relatif lebih dominan terhadap masyarakat; masyarakat memiliki status yang relatif dominan terhadap individu; individu dan masyarakat saling tergantung (hubungan interdependent).

Walaupun terjadi pembauran, bukan berarti eksistensi individu sama sekali tidak ada dan sama sekali tidak ada bagi kehidupan yang bersifat pribadi. Sebaliknya, meskipun dalam kehidupan masyarakat yang telah mengalami proses serba individualispun, kehidupan bersama tetap tidak dapat ditinggalkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa individu dan masyarakat merupakan perangkat yang senantiasa ada dalam setiap pergaulan hidup; individu tidak mungkin dapat hidup dengan sempurna tanpa bermasyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar