Social Icons

Beranda

Kamis, 26 Januari 2012

SELEMBAR SURAT BUAT TUHAN

Segala Sesuatu terjadi karena syarat dan ketentuannya telah terpenuhi..
Kalimat tersebut tepat untuk mengawali selembar suratku kepadamu Tuhan..
Engkau pernah berpesan bahwa "Jodoh dan Rezki adalah bentuk ketentuan dari-Mu yang bersifat Determinis, dan dipesan lain Engkau mengucap bahwa "Tak akan kurubah Nasib seseorang ketika orang tersebut enggan untuk merubahnya".

Mungkin ketika kugunakan pelaran Dangkalku, maka akupun akan berasumsi bahwa 2 pesan yang Engkau titipkan saling berkontradiksi. tetatapi Aku Cukup tahu penafsiran dari dua pesan yang Engkau titipkan pada Insan Ciptaanmu. Bahwa dibalik ketentuan dan Takdir yang telah Engkau Niscayakan terselip beberapa titik Ikhtiar-ikhtiar bagi setiap Insan-Mu.

Saat ini Engkau telah memanifestasikan Cintaku yang terperangkap dalam raga seseorang yang Selalu ku Aktualkan dalam jingga-jingga Khayalku setiap saat. Seperti halnya Insan Cita yang lainnya maka akupun punya Suatu Nazar untuk ingin selalu merangkul Dirinya secara formal dan  terlepas dari sekat-sekat apapun itu. Niatan tersebut sampai saat ini telah kuramu dalam Pondasi-pondasi Ikhtiar agar apa yang ku niatkan tersebut dalam teraktual dalam ruang-ruang realitas dan tidak hanya menjadi sebatas mimpi dalam alam akalku saat ini.

Namun seberapapun besar Ikhtiar-Ikhtiar yang telah Kutempuh selama ini, masih ada ketentuan-ketentuan yang belum kupenuhi.. maka berikanlah satu pelita sebagai sumber cayaha yang dapat menerangi rel-rel ikhtiarku kedepan agar dengan mudah kutemukan segala bentuk syarat dan ketentuan-ketentuan yang masih tersembunyi dalam Etalase-etalase pengetahuan Mutlak-Mu yang sampai saat ini masih menjadi Hijab dalam realisasi Anganku.

Selain Itu Kupinta jagakan Dirinya di sisi-Mu sampai Kutemukan Penggalan-penggalan Syarat dan ketentuan tersebut dalam Etalase-etalase yang masih terbungkus rapi Oleh-Mu.

Apakah Tuhan Bertujuan Dalam Mencipta???


Berangkat atas Pondasi rasionalitas yg cukup sederhana.. tak ada yang dapat memberikan sanggahan ketika saya mengatakan bahwa "Setiap perbuatan Individu yang berakal pasti mempunyai tujuan". Segala bentuk perbuatan akan diawali dengan bentuk pertanyaan "Untuk Apa". Ketika saya bertanya “Untuk apa anda makan” lalu dengan jawaban sederhana dijawab “Agar saya bisa kenyang dan dapat beraktifitas dengan maksimal”.. lalu “Untuk apa anda Kuliah” kemudian kembali dijawab dengan sederhana “Agar saya bisa mendapatkan pengetahuan untuk bekal masa depan”, Demikian seterusnya. Setiap pertanyaan “Mengapa” meniscayakan jawaban “Supaya”. Karena kata “Supaya” tersebut dapat menghindari perbuatan setiap Individu pada predikat “Kesian-siaan”. Sederhanyanya seperti ini, suatu pekerjaan atau perbuatan dapat kita simpulkan bahwa Ia bermakna ketika pekerjaan atau perbuatan yang kita lakukan tersebut dapat menjadi suatu unsure kebaikan atau kemaslahatan, baik untuk individu itu sendiri atau untuk individu-individu lainyya.
Berbeda halnya ketika individu melakukan atau berbuat suatu perbuatan tanpa adanya pijakan tujuan. Sama halnya perbuatan tersebut adalah bentuk-bentuk perbuatan yang sering dilakukan oleh para penghuni “R.S DADI” (Salah Satu Stroke Center ditempat tinggal saya di Makassar yang menangani para penderita gangguan kejiwaan).
Lalu kembali ke pokok persoalan kita tadi, apabila perbuatan-perbuatan kita telah meninggalkan/menghilangkan pertanyaan  “Mengapa” dan jawaban “Supaya” maka yakin dan percaya perbuatan tersebut yang kita lakukan adalah perbuatan yang sia-sia dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Maka saran saya adalah bergegaslah anda mendaftar pada salah satu Rumah Sakit Jiwa yang berada disekitar tempat anda berdomisili saat ini.
Ketika kita ingin menyandang predikat “Bijak” maka setiap perbuatan dan perlakuan kita mesti mempunyai unsur tujuan, dengan asumsi dasar bahwa tujuan tersebut  dapat diterima oleh akal dan akal mampu menentukan bahwa tujuan tersebut adalah tujuan yang paling kuat dan paling maslahat. Dengan demikian Insan yang bijak adalah (i) Insan yang setiap perbuatannya memiliki maksud dan tujuan (ii), tujuan tersebut harus dipilih atas dasar yang paling maslahat dan lebih kuat, (iii). Untuk mencapai tujuan tersebut Ia harus memilih media utama dan yang paling cepat. Dengan perkataan lain Insan bijak adalah Insan yang telah mempersiapkan “Supaya” yang memuaskan untuk setiap “Mengapa” yang dihadapinya. Sebagai contoh pertanyaan “ Mengapa anda melakukan demikian?? Supaya tercapai tujuan yang “Anu” mengapa anda mengutamakan tujuan itu?? Karena didalamnya terdapat keistimewaan itu, mengapa anda gunakan cara yng seperti itu bukan cara yang lainnya?? Yaitu karena adanya priorotas yang Anu.
Lalu.. bagaimana ketika menyangkut persoalan Tuhan?? Apakah perbuatan Tuhan layaknya juga perbuatan tiap individu-individu di muka bumi ini yang disebabkan oleh tujuan-tujuan tertentu. Sebagai apa yang telah kita sepakati diatas bahwa syarat Individu dikatakan Bijak ketika Ia dalam melakukan sesuatu tidak terlepas dari  unsur tujuan, pertanyaannya bukankan Tuhan itu Maha Bijak?? Ketika Tuhan Maha bijak maka tentunya setiap apa yang dilakukan Tuhan mempunyai sesuatu yg kita sebut sebagai Tujuan. Karena ketika Tuhan bertujuan maka ada sesutau yang belum IA capai, ketika masih ada yang belum IA capai maka dengan sendirinya IA Gugur sebagai Tuhan yang Maha Sempurnya. Pertanyaannya apa Tujuan Tuhan mencipta? Apakah IA merasa Sepi dalam kesendiriannya?? Atau ketika Tuhan tidak bertujuan berarti saat mencipta IA dalam kondisi yang tidak sadar atau boleh dikatakan “Khilaf”. Bukankan Albert Einstein pernah berkata “TUHAN TIDAK BERMAIN DADU DALAM MENCIPTA” Karena ketika Tuhan tidak bertujuan dalam mencipta apa bedanya dengan para penderita Gangguan Jiwa yang terkurung pada R.S Dadi yang ada di Makassar atau ditempat-tempat lain??
Ataukah ketentuan untuk mendapatkan Predikat Bijak tersebut hanya berlaku pada pada perbuatan-perbuatan individu? Sedangkan pemberlakuannya secara umum terhadap Perbuatan-perbuatan Tuhan hanya merupakan suatu bentuk penyerupaan belaka (Tasybih) atau hanya suatu bentuk “Penganalogian” semata antara Pencipta dengan Ciptaan-Nya??
Ada dua Argumentasi dari dari masing-masing Mazhab yang berbeda untuk mendapatkan jawaban atas kegelisahan-kegelisahan ini.
Pertama (Kaum Muta’zilah)
Berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan mempunyai maksud dan tujuan karena asumsi dasarnya bahwa segala bentuk perbuatan tersebut bersumber dari yang Mahabijak, kemudian Hal tersebut dijelaskan secara berulang dalam Al-Qur’an Al-karim. Dimana dalam setiap perbuatan Allah SWT terdapat maksud dan tujuan, dan melalui kesempurnaan Ilmu-Nya Tuhan memilih sarana yang paling utama dan yang paling tepat untuk mencapai tujuan tersebut.
Oleh karena itu perbuatan-perbuatan Allah SWT berdasarkan perspektif Mu’tazilah merupakan serangkaian kemaslahatan.
Kedua (Kaum Asy’ari)
Pengikut Mazhab yang kedua ini sangat menolak asumsi bahwa perbuatan Tuhan tersebut mempunyai maksud dan tujuan. Adapun  sifat bijak yang dikutip oleh Al-Quran yang dinisbahkan kepada Allah tersebut ditafsirkan sebagaimana mereka menafsirkan persoalan keadilan Ilahi, yaitu bahwa apa yang diperbuat oleh Allah SWT adalah sudah secara Otomatis perbuatan tersebut adalah perbuatan yang bijak tanpa adanya maksud dan tujuan sebelum IA berkehendak. Bukan setiap yang merupakan perbuatan bijak harus diperbuat oleh Allah.
Pendukung Mazhab Asy’ari mengatakan bahwa “Sebagaimana Dia telah menciptakan makhluk-makhluk, maka Diapun menciptakan “Supaya” untuk kemaslahatan tersebut”
Lalu Bagaimana Dengan Mazhab dan pandangan Anda???

Sabtu, 21 Januari 2012

GORESAN PENA KAUM YANG TERMARJINALKAN




Berbicara tentang System Pendidikan berarti berbicara tentang acuan Konstitusi Batang Tubuh UUD 1945 yang dimana salah satu point penting yakni “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.
Tersedianya Institusi-Intitusi Pendidikan Berbasis Swasta yang diyakini sebagai tangan kanan Institusi Pemerintahan (Negeri) yang dapat membantu mewujudkan niatan luhur Konstitusi kita untuk menciptakan Insan yang Merdeka dari belenggu-belenggu kebodohan yang pada titik ekstrim akan menjadi mata rantai kemiskinan ternyata belum mampu menjadi media representatif bagi terciptanya Manusia-Manusia Akademisi.
Munculnya beberapa pihak Swasta yang berkedok Institusi Pendidikan ternyata tidak dijadikan sebagai Medium Humanisasi (Memanusiakan Manusia), tetapi justru sebaliknya beberapa Intitusi Swasta yang bertopeng “Yayasan Pendidikan” menjadikan Medium Pendidikan sebagai lahan Exploitasi Manusia. Penghisapan besar-besaranpun menjadi bahan rutinitas keseharian mereka.
Satu bahan sederhana dari landasan empiris dapat dicontohkan dalam pola-pola klasik seperti ini yakni yang perlu kita simak seksama dimana kontribusi yang harus dikeluarkan untuk niatan menuntut ilmu di Kampus-Kampus Swasta tentunya harus mengorek kocek yang lebih dalam dibandingkan dengan Institusi-Intitusi Negeri lainnya, namun pertanyaan dasar yang ingin diajukan adalah apakah kontribusi yang telah dikeluarkan telah menjadi bahan yang berbanding lurus dengan apa yang kita telah peroleh selama berproses dibawah atap Institusi Kapitalis tersebut???
Ikhtiar-ikhtiar untuk menjadi Manusia-Manusia yang berkompetensi dalam dunia Akademisi tentunya tidak hanya ditunjang dari kacamata konsep-konsep Pendidikan (Kurikulum) yang coba di usung, namun harus dibarengi dengan Support Infrastruktur yang ideal, mari kita mencoba mengambil satu contoh Pendidikan-Pendidikan yang berbasis kesehatan yang rutinitasnya tidak hanya pada bangku perkuliahan tetapi juga beraktifitas pada laboratorium-laboratorium (praktik), untuk sistem pendidikan kesehatan seperti ini tidak hanya cukup untuk matang di wilayah konsep kurikulum semata tetapi juga membutuhkan Support Infrastruktur dengan satu doktrin “Teori Tanpa Praktek = Pincang”.
Sebelum kita berbicara tentang “Yayasan Pendidikan” sebaiknya kita harus lebih mengenal tentang Filosofi Yayasan terlebih dahulu yang telah tertuang pada Undang-Undang Yayasan itu sendiri yang menjelaskan bahwa “Orang-orang yang mendirikan yayasan adalah orang yang mempunyai kelebihan harta dan telah mewakafkan sebagian hartanya untuk terciptanya kemaslahatan Insani”.
Jadi sekarang telah jelas secara bersama bahwa Yayasan Pendidikan hanya berorientasi kepada terciptanya Masyarakat didik yang bebas dari belenggu-belunggu kebodohan yang terbingkai dalam nilai-nilai yang Humanis.
Berdasarkan kacamata realistis yang terjadi pada Yayasan Pendidikan Al-Aqsha Makassar yang menaungi Universitas Pancasakti sebagai wadah Pendidikan telah menjadi hal yang kontradiktif pada Filosofi Pendidikan secara umum dan Filosofi Yayasan itu sendiri secara lebih khusus.
Dimana Yayasan Al-Aqhsa tidak melihat Universitas Pancasakti ini sebagai Medium Pendidikan, tetapi lebih mengasumsikan bahwa medium ini tidak ubahnya sebagai Perusahaan atau pasar dan barang dagangannya adalah peserta didik itu sendiri.
Asumsi tersebut terbangun atas bingkai rasionalitas yang jelas.. Dimana Universitas Pancasakti Makassar yang dinangungi oleh Yayasan Kapitalis Al-Aqhsa telah beroperasi sejak tahun 1987 hingga saat ini memasuki tahun 2012, usia tersebut merupakan usia yang sudah sangat reproduktif untuk beranak cucu ketika diperhadapkan dengan usia Produktif Manusia.
Mungkin terlalu jauh jikalaulah kita melakukan refleksi sejarah sejak 20 tahun silam untuk melakukan audit terhadap Loncatan Kualitatif Universitas ini, untuk memudahkan jangkauan Rasio Matematika kita, mari membuat kerangka sederhana terhadap ketimpangan yang terjadi.
1.  Mari kita menghitung besarnya jumlah Mahasiswa yang sampai saat ini masih berputar pada Eksploitasi Kapitalistik (yang masih kuliah), mulai dari angkatan 2011,2010,2009, dan 2008.
2.  Setiap angkatan terdiri dari 4 fakultas (FKM, F.MIPA, FISIPOL dan FKIP).
3.  Untuk mempermudah kalkulasi rasio kita, mari membuat rata-rata yang paling minimum saja untuk jumlah Mahasiswa tiap Fakultas sebesar 25 orang saja untuk setiap angkatan
(FKM = 25 orang + F.MIPA = 25 orang + FISIPOL 25 orang dan FKIP = 25 orang).
4.  Jadi untuk setiap tahun angkatan mempunyai jumlah Mahasiswa 100 Orang
5.  Ketika dalam tiap tahun dilakukan pemungutan pembayaran pembangunanan (SPP) sebesar Rp. 1.000.000,-/Orang, maka anggaran yang akan terkumpul dalam tiap tahun adalah Rp.100.000.000,-
6.  Ketika Rp.100.000.000,- di kali 4 sesuai dengan jumlah Mahasiswa saat ini mulai angkatan (2011 – 2008) maka hasilnya = Rp. 400.000.000,- dan itu belum termasuk dalam pembayaran persemester (BPP) yang kurang lebih besarannya hampir sama dengan (SPP) dan kita belum menghitung kas yang telah disumbangkan oleh angkatan-angkatan 2007 ke atas.

Dari perhitungan kasar tersebut sebesar Rp.400.000.000,- dalam dekade terakhir ini, satu pertanyaan mendasar yang menjadi kegelisahan kemudian yakni “Perubahan Besar Apa Yang Telah Terjadi Pada Institusi Ini????

Hanya satu benang merah yang menjadi akar dari rantai masalah saat ini.. Yakni suatu sistem yang coba dibangun atas orentasi profit semata, tidak lain dan tidak bukan adalah sistem sentralistik.
Yang dimana pihak Yayasan Kapitalis mencoba membangun “Rule Of The Game” dari sebuah pola-pola Dehumanisasi Masyarakat Intelektual. Sedangkan yang kita ketahui bersama dalam konteks Jobdeskription antara pihak Rektorat yang bertanggungjawab penuh terhadap keberlangsungan roda suatu Institusi dan tugas Yayasan yang hadir sebagai fungsi control terhadap kinerja-kinerja Universitas. Jadi dalam hal ini ada beberapa hal-hal yang semestinya tidak di Intervensi terlalu jauh oleh pihak Yayasan kepada pihak Universitas dalam hal ini.
Hal Kontradiktifpun terjadi dalam Negara yang coba dibangun oleh Al-Aqhsa dimana pola-pola Sentralisasi yang kemudian diusung untuk kepentingan profit mencoba menafikkan tugas dan fungsi-fungsi dari kinerja pihak Rektorat dalam hal ini.
Apa gunanya hadir  Senat Universitas ataupun Senat masing-masing Fakultas untuk mengambil sebuah kebijakan yang bersifat otonom dalam setiap pengambilan keputusan jika kebijakan tersebut akhirnya mental ketika dianggap tidak menguntungkan bagi Mereka..
Atau masih ingatkah kawan-kawan tragedy kudeta massal yang terjadi pada periode mantan Rektor Faisal Attamimi beserta jajaran-jajarannya yang sangat tidak sesuai dengan procedural atau aturan main yang berlaku dalam STATUTA Universitas??
Pertanyaan mendasar yang akan timbul kemudian yakni “kenapa hal itu terjadi??’’ jawaban sederhana yakni karena mereka yang bernasib naas tersebut tidak bisa lagi berjalan romantis diatas Rel-Rel Eksploitasi yang coba dibingkai manis dalam gerbong kapitalisme dunia pendidikan.
Satu harapan besar yang mari kita usung bersama-sama yakni mari kita bersatu rapatkan barisan, genggam erat kepalan tangan untuk bersama memukul fenomena-fenomena ketimpangan social yang terjadi saat ini, dan satu kesyukuran yang harus kita pahami bersama bahwa kita saat ini mempunyai seorang “LEADER” yang memegang Komando Birokrasi dan ingin FIGHT untuk mengawal terciptanya perubahan-perubahan.
Lalu apa lagi yang kita tunggu?? Menunggu takkan mampu menghasilkan apa-apa..

MARI BERSAMA MEMBANGUN PANJI-PANJI PERLAWANAN DEMI TERCIPTANYA MASYARAKAT MADANI, INSAN INTELEKTUAL YANG TERBEBAS DARI BELENGGU-BELENGGU BINGKAI KAPITALISME PENDIDIKAN
“MATI TERTINDAS ATAU BANGKIT MELAWAN,
KARENA DIAM ADALAH BAHASA PENGKHIANATAN”

SEBAB YANG TAK DISEBABKAN


Prinsip kausalitas ; bahwa segala sesuatu yang maujud memerlukan sebab agar meng-ada, tentu kecuali keberadaan itu sendiri ; merupakan satu prinsip yang telah hadir secara fitri dalam akal filosofis manusia. Setiap pemikir mau tidak mau mesti menggunakan prinsip ini, sebagaimana juga prinsip non-kontradiksi, untuk melandasi seluruh teori dan pengetahuannya.
Dalam alam kausalitas ini, Tuhan sebagai Pencipta sekalian alam, tidak lain dimengerti sebagai Sebab Pertama (Causa -Prima). Artinya sebab yang bukan merupakan akibat dari sebab lain. Karena kalau Tuhan bukan Sebab pertama berarti Ia bukanlah Pencipta dari sekalian alam, malahan dapat dikatakan ia diciptakan. Maha Suci Tuhan dari semua yang mereka sifatkan!

Sebagai Sebab Pertama, hakikat Tuhan adalah keberadaan-Nya. Keberadaan-Nya tidak lain adalah keberadaan sebagai keberadaan (wujud qua wujud) atau Al-Wujud Al-Muthlaq.
Bukti. Kalau hakikat Tuhan bukan keberadaan itu sendiri, maka pasti Ia memerlukan sebab untuk mengada. Sebab untuk mengada yang diperlukan ini ada dua kemungkinan
1.       Sebab itu adalah diri-Nya sendiri. Kemungkinan ini mustahil, karena akan terjadi rantai sebab akibat tanpa ujung.
2.       Sebab itu adalah selain diri-Nya sendiri. Jika kemungkinan ini benar maka Tuhan bukan Sebab Pertama. Atau dengan kata lain Tuhan adalah bukan Tuhan. Dan ini mustahil juga karena merupakan suatu kontradiksi logis.

Jadi Tuhan itu Tunggal. Karena wujud qua wujud itu tunggal.

Dan Tuhan tidak terbagi atau tidak tersusun atas bagian-bagian yang lebih kecil. Karena wujud qua wujud itu tidak tersusun atas bagian-bagian yang lebih kecil.
Bukti bahwa wujud qua wujud tidak tersusun atas bagian-bagian yang lebih kecil adalah sebagai berikut. Jika wujud qua wujud tersusun atas bagian yang lebih kecil, maka ada dua kemungkinan
1.       Ada di antara bagian tersebut yang merupakan wujud qua wujud. Maka ini mustahil karena akan menghasilkan rantai tanpa ujung.
2.       Tidak ada di antara bagian tersebut yang merupakan wujud qua wujud. Ini pun mustahil karena dengan demikian wujud qua wujud tidak mempunyai keberadaan.

Dan Tuhan tidak terikat oleh “ke-kapanan” maupun “ke-dimana-an” apapun. Karena ke-kapanan maupun ke-dimana-an pasti terbagi. Ke-kapanan membagi masa menjadi sekarang, esok, lusa. Ke-dimana-an membagi posisi menjadi di sana, di situ dan lain-lain. Sedang Tuhan tidak terbagi.

Dan Tuhan itu bukanlah suatu substansi bukan pula aksiden, jika dilihat dari hakikatnya, kecuali secara aksidental. Karena dari defenisinya1 substansi adalah mahiyyah yang diaktualisasi di alam eksternal yang tidak memerlukan substratum (dasar), sedang wujud  bukanlah mahiyyah. Wujud bukan pula aksiden, karena aksiden memerlukan substratum, sedang wujud pasti tidak memerlukan substratum apa-pun, karena substratum apa-pun justru memerlukannya untuk mengada. Wujud tidak mungkin merupakan substansi maupun aksiden, kecuali secara aksidental saja. Suatu wujud partikular merupakan substansi melalui ke-substansi-an mahiyyah yang berkaitan, dan ia merupakan aksiden melalui ke-aksiden-an mahiyyah yang berkaitan. Konsep wujud adalah aksiden dalam artian konsep ini adalah suatu predikat yang disarikan dari subyek-subyeknya.

Dan tidak ada apapun yang bisa dilawankan dengan Tuhan, tidak pula ada suatu yang mirip dengan-Nya. Karena dua hal yang berlawanan mempunyai beberapa syarat;
·         sama-sama ada
·         mempunyai substratum yang sama
·         mempunyai perbedaan yang ekstrim
·         dapat diklasifikasikan di dalam genus yang berdekatan / kira-kira sama
Sedang wujud tidak punya substratum, tidak pula punya genus, dan tidak pula jarak (beda) yang ekstrim terhadap apa – pun.. Karena itu pemisahan mahiyyah dari wujud adalah suatu “pembubuhan/penghiasan” mahiyyah oleh wujud. Lebih lanjut, tidak ada suatu apa pun yang mirip dengan wujud. Karena, dua hal yang mirip adalah dua hal yang mempunyai suatu yang sama dalam mahiyyah – nya, sedang wujud bukanlah mahiyyah.



1 Haji Mulla Hadi Sabzavari, Syarh-e Manzumeh-e Hikmat, (English Translation oleh M. Mohaghegh $ T. Itsuzu), pp. 203-217

SECANGKIR TENTANG HUMANISME


Mengawali pokok pembicaraan kita pada kali ini, maka kita akan mempersoalkan tentang Manusia, dan ketika kita mendengar kata manusia maka yang terstigma dipemikiran kita adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan YME.
Nah, sekarang mari kita kembali membuka perpustakaan akal kita, apa sih pentingnya membahas manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan? Sedangkan tidak ternafikkan dan yang kita ketahui secara bersama-sama bahwa hewan dan tumbuhan juga makhluk ciptaan Tuhan.
Ketika kita berbicara tentang manusia, pokok bahasan kita tidak akan terlepas dari nilai-nilai (axiology) kemanusiaan, lalu untuk membahas nilai-nilai kemanusiaan maka kita akan berbicara tentang ahlak, berbicara tentang ahlak maka kita akan berbicara tentang aspek ruhaniah manusia berarti kita berbicara tentang fitrah manusia karena dalam diri manusia ada yang namanya fitrah, fitrah itulah aspek ruhaniah manusia, yang dengannya manusia dikatakan manusia.
 Fitrah inilah sifat dasar manusia atau karakter dasar manusia. Ada kalimat bijak yang mengatakan seperti ini Batu datang kedunia ini sebagai batu dan akan kembali sebagai batu.
Artinya bahwa batu tidak perlu berproses untuk menjadi batu karena dia adalah sesuatu yang sifatnya terberi (Giving) atau yang pada hakikatnya sudah ditentukan atau sebuah kepastian (Determinis). kemudian “Pohon apel datang kedunia sebagai pohon apel dan akan kembali sebagai pohon apel,  dan “Keledai datang kedunia sebagai keledai dan akan kembali sebagai keledai pula”.
Tetapi yang uniknya dalam hal ini adalah “Manusia datang kedunia sebagai manusia dan entah akan kembali sebagai wujud manusia atau bukan layaknya manusia”, Artinya manusia untuk menjadi manusia dia butuh proses bahwa manusia bukanlah sesuatu yang terberi pada manusia tetapi dia adalah sebuah derajat atau gelar yang mesti dicapai,
Maka dari pembahasan diatas kita dapat berasumsi bahwa manusia dikatakan manusia itu tergantung dari tindakan atau perilakunya (perilakulah yang menetukan seorang manusia) Fitrah inilah adalah utama yang harus dimiliki seorang manusia sehingga dia dikatakan manusia, fitrah adalah kecenderungan alamiah manusia yang bersifat inhern pada diri manusia kepada kesempurnaan, kecenderungan fitrawi itu ada lima secara umum yaitu :
1.         Kecenderungan Kepada Kebenaran
2.         Kecenderungan Kepada Etika
3.         Kecenderungan Kepada Estetika
4.         Kecenderungan Kepada Ibadah
5.         Kecenderungan Kepada Cinta