Berbeda halnya ketika
individu melakukan atau berbuat suatu perbuatan tanpa adanya pijakan tujuan.
Sama halnya perbuatan tersebut adalah bentuk-bentuk perbuatan yang sering
dilakukan oleh para penghuni “R.S DADI” (Salah Satu Stroke Center ditempat
tinggal saya di Makassar yang menangani para penderita gangguan kejiwaan).
Lalu kembali ke pokok
persoalan kita tadi, apabila perbuatan-perbuatan kita telah
meninggalkan/menghilangkan pertanyaan
“Mengapa” dan jawaban “Supaya” maka yakin dan percaya perbuatan tersebut
yang kita lakukan adalah perbuatan yang sia-sia dan tidak akan menghasilkan
apa-apa. Maka saran saya adalah bergegaslah anda mendaftar pada salah satu
Rumah Sakit Jiwa yang berada disekitar tempat anda berdomisili saat ini.
Ketika
kita ingin menyandang predikat “Bijak” maka setiap perbuatan dan perlakuan kita
mesti mempunyai unsur tujuan, dengan asumsi dasar bahwa tujuan tersebut dapat diterima oleh akal dan akal mampu
menentukan bahwa tujuan tersebut adalah tujuan yang paling kuat dan paling
maslahat. Dengan demikian Insan yang bijak adalah (i) Insan yang setiap
perbuatannya memiliki maksud dan tujuan (ii), tujuan tersebut harus dipilih
atas dasar yang paling maslahat dan lebih kuat, (iii). Untuk mencapai tujuan
tersebut Ia harus memilih media utama dan yang paling cepat. Dengan perkataan
lain Insan bijak adalah Insan yang telah mempersiapkan “Supaya” yang memuaskan
untuk setiap “Mengapa” yang dihadapinya. Sebagai contoh pertanyaan “ Mengapa
anda melakukan demikian?? Supaya tercapai tujuan yang “Anu” mengapa anda
mengutamakan tujuan itu?? Karena didalamnya terdapat keistimewaan itu, mengapa
anda gunakan cara yng seperti itu bukan cara yang lainnya?? Yaitu karena adanya
priorotas yang Anu.
Lalu..
bagaimana ketika menyangkut persoalan Tuhan?? Apakah perbuatan Tuhan layaknya
juga perbuatan tiap individu-individu di muka bumi ini yang disebabkan oleh
tujuan-tujuan tertentu. Sebagai apa yang telah kita sepakati diatas bahwa
syarat Individu dikatakan Bijak ketika Ia dalam melakukan sesuatu tidak
terlepas dari unsur tujuan,
pertanyaannya bukankan Tuhan itu Maha Bijak?? Ketika Tuhan Maha bijak maka
tentunya setiap apa yang dilakukan Tuhan mempunyai sesuatu yg kita sebut
sebagai Tujuan. Karena ketika Tuhan bertujuan maka ada sesutau yang belum IA
capai, ketika masih ada yang belum IA capai maka dengan sendirinya IA Gugur
sebagai Tuhan yang Maha Sempurnya. Pertanyaannya apa Tujuan Tuhan mencipta? Apakah
IA merasa Sepi dalam kesendiriannya?? Atau ketika Tuhan tidak bertujuan berarti
saat mencipta IA dalam kondisi yang tidak sadar atau boleh dikatakan “Khilaf”. Bukankan
Albert Einstein pernah berkata “TUHAN TIDAK BERMAIN DADU DALAM MENCIPTA”
Karena ketika Tuhan tidak bertujuan dalam mencipta apa bedanya dengan para
penderita Gangguan Jiwa yang terkurung pada R.S Dadi yang ada di Makassar atau
ditempat-tempat lain??
Ataukah
ketentuan untuk mendapatkan Predikat Bijak tersebut hanya berlaku pada pada
perbuatan-perbuatan individu? Sedangkan pemberlakuannya secara umum terhadap
Perbuatan-perbuatan Tuhan hanya merupakan suatu bentuk penyerupaan belaka (Tasybih)
atau hanya suatu bentuk “Penganalogian” semata antara
Pencipta dengan Ciptaan-Nya??
Ada
dua Argumentasi dari dari masing-masing Mazhab yang berbeda untuk mendapatkan
jawaban atas kegelisahan-kegelisahan ini.
Pertama (Kaum Muta’zilah)
Berpendapat
bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan mempunyai maksud dan tujuan karena asumsi
dasarnya bahwa segala bentuk perbuatan tersebut bersumber dari yang Mahabijak,
kemudian Hal tersebut dijelaskan secara berulang dalam Al-Qur’an Al-karim. Dimana
dalam setiap perbuatan Allah SWT terdapat maksud dan tujuan, dan melalui kesempurnaan
Ilmu-Nya Tuhan memilih sarana yang paling utama dan yang paling tepat untuk
mencapai tujuan tersebut.
Oleh
karena itu perbuatan-perbuatan Allah SWT berdasarkan perspektif Mu’tazilah
merupakan serangkaian kemaslahatan.
Kedua (Kaum Asy’ari)
Pengikut
Mazhab yang kedua ini sangat menolak asumsi bahwa perbuatan Tuhan tersebut
mempunyai maksud dan tujuan. Adapun sifat
bijak yang dikutip oleh Al-Quran yang dinisbahkan kepada Allah tersebut
ditafsirkan sebagaimana mereka menafsirkan persoalan keadilan Ilahi, yaitu
bahwa apa yang diperbuat oleh Allah SWT adalah sudah secara Otomatis perbuatan
tersebut adalah perbuatan yang bijak tanpa adanya maksud dan tujuan sebelum IA
berkehendak. Bukan setiap yang merupakan perbuatan bijak harus diperbuat oleh
Allah.
Pendukung
Mazhab Asy’ari mengatakan bahwa “Sebagaimana Dia telah menciptakan
makhluk-makhluk, maka Diapun menciptakan “Supaya” untuk kemaslahatan tersebut”
Lalu
Bagaimana Dengan Mazhab dan pandangan Anda???



Tidak ada komentar:
Posting Komentar