Social Icons

Beranda

Kamis, 26 Januari 2012

Apakah Tuhan Bertujuan Dalam Mencipta???


Berangkat atas Pondasi rasionalitas yg cukup sederhana.. tak ada yang dapat memberikan sanggahan ketika saya mengatakan bahwa "Setiap perbuatan Individu yang berakal pasti mempunyai tujuan". Segala bentuk perbuatan akan diawali dengan bentuk pertanyaan "Untuk Apa". Ketika saya bertanya “Untuk apa anda makan” lalu dengan jawaban sederhana dijawab “Agar saya bisa kenyang dan dapat beraktifitas dengan maksimal”.. lalu “Untuk apa anda Kuliah” kemudian kembali dijawab dengan sederhana “Agar saya bisa mendapatkan pengetahuan untuk bekal masa depan”, Demikian seterusnya. Setiap pertanyaan “Mengapa” meniscayakan jawaban “Supaya”. Karena kata “Supaya” tersebut dapat menghindari perbuatan setiap Individu pada predikat “Kesian-siaan”. Sederhanyanya seperti ini, suatu pekerjaan atau perbuatan dapat kita simpulkan bahwa Ia bermakna ketika pekerjaan atau perbuatan yang kita lakukan tersebut dapat menjadi suatu unsure kebaikan atau kemaslahatan, baik untuk individu itu sendiri atau untuk individu-individu lainyya.
Berbeda halnya ketika individu melakukan atau berbuat suatu perbuatan tanpa adanya pijakan tujuan. Sama halnya perbuatan tersebut adalah bentuk-bentuk perbuatan yang sering dilakukan oleh para penghuni “R.S DADI” (Salah Satu Stroke Center ditempat tinggal saya di Makassar yang menangani para penderita gangguan kejiwaan).
Lalu kembali ke pokok persoalan kita tadi, apabila perbuatan-perbuatan kita telah meninggalkan/menghilangkan pertanyaan  “Mengapa” dan jawaban “Supaya” maka yakin dan percaya perbuatan tersebut yang kita lakukan adalah perbuatan yang sia-sia dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Maka saran saya adalah bergegaslah anda mendaftar pada salah satu Rumah Sakit Jiwa yang berada disekitar tempat anda berdomisili saat ini.
Ketika kita ingin menyandang predikat “Bijak” maka setiap perbuatan dan perlakuan kita mesti mempunyai unsur tujuan, dengan asumsi dasar bahwa tujuan tersebut  dapat diterima oleh akal dan akal mampu menentukan bahwa tujuan tersebut adalah tujuan yang paling kuat dan paling maslahat. Dengan demikian Insan yang bijak adalah (i) Insan yang setiap perbuatannya memiliki maksud dan tujuan (ii), tujuan tersebut harus dipilih atas dasar yang paling maslahat dan lebih kuat, (iii). Untuk mencapai tujuan tersebut Ia harus memilih media utama dan yang paling cepat. Dengan perkataan lain Insan bijak adalah Insan yang telah mempersiapkan “Supaya” yang memuaskan untuk setiap “Mengapa” yang dihadapinya. Sebagai contoh pertanyaan “ Mengapa anda melakukan demikian?? Supaya tercapai tujuan yang “Anu” mengapa anda mengutamakan tujuan itu?? Karena didalamnya terdapat keistimewaan itu, mengapa anda gunakan cara yng seperti itu bukan cara yang lainnya?? Yaitu karena adanya priorotas yang Anu.
Lalu.. bagaimana ketika menyangkut persoalan Tuhan?? Apakah perbuatan Tuhan layaknya juga perbuatan tiap individu-individu di muka bumi ini yang disebabkan oleh tujuan-tujuan tertentu. Sebagai apa yang telah kita sepakati diatas bahwa syarat Individu dikatakan Bijak ketika Ia dalam melakukan sesuatu tidak terlepas dari  unsur tujuan, pertanyaannya bukankan Tuhan itu Maha Bijak?? Ketika Tuhan Maha bijak maka tentunya setiap apa yang dilakukan Tuhan mempunyai sesuatu yg kita sebut sebagai Tujuan. Karena ketika Tuhan bertujuan maka ada sesutau yang belum IA capai, ketika masih ada yang belum IA capai maka dengan sendirinya IA Gugur sebagai Tuhan yang Maha Sempurnya. Pertanyaannya apa Tujuan Tuhan mencipta? Apakah IA merasa Sepi dalam kesendiriannya?? Atau ketika Tuhan tidak bertujuan berarti saat mencipta IA dalam kondisi yang tidak sadar atau boleh dikatakan “Khilaf”. Bukankan Albert Einstein pernah berkata “TUHAN TIDAK BERMAIN DADU DALAM MENCIPTA” Karena ketika Tuhan tidak bertujuan dalam mencipta apa bedanya dengan para penderita Gangguan Jiwa yang terkurung pada R.S Dadi yang ada di Makassar atau ditempat-tempat lain??
Ataukah ketentuan untuk mendapatkan Predikat Bijak tersebut hanya berlaku pada pada perbuatan-perbuatan individu? Sedangkan pemberlakuannya secara umum terhadap Perbuatan-perbuatan Tuhan hanya merupakan suatu bentuk penyerupaan belaka (Tasybih) atau hanya suatu bentuk “Penganalogian” semata antara Pencipta dengan Ciptaan-Nya??
Ada dua Argumentasi dari dari masing-masing Mazhab yang berbeda untuk mendapatkan jawaban atas kegelisahan-kegelisahan ini.
Pertama (Kaum Muta’zilah)
Berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan mempunyai maksud dan tujuan karena asumsi dasarnya bahwa segala bentuk perbuatan tersebut bersumber dari yang Mahabijak, kemudian Hal tersebut dijelaskan secara berulang dalam Al-Qur’an Al-karim. Dimana dalam setiap perbuatan Allah SWT terdapat maksud dan tujuan, dan melalui kesempurnaan Ilmu-Nya Tuhan memilih sarana yang paling utama dan yang paling tepat untuk mencapai tujuan tersebut.
Oleh karena itu perbuatan-perbuatan Allah SWT berdasarkan perspektif Mu’tazilah merupakan serangkaian kemaslahatan.
Kedua (Kaum Asy’ari)
Pengikut Mazhab yang kedua ini sangat menolak asumsi bahwa perbuatan Tuhan tersebut mempunyai maksud dan tujuan. Adapun  sifat bijak yang dikutip oleh Al-Quran yang dinisbahkan kepada Allah tersebut ditafsirkan sebagaimana mereka menafsirkan persoalan keadilan Ilahi, yaitu bahwa apa yang diperbuat oleh Allah SWT adalah sudah secara Otomatis perbuatan tersebut adalah perbuatan yang bijak tanpa adanya maksud dan tujuan sebelum IA berkehendak. Bukan setiap yang merupakan perbuatan bijak harus diperbuat oleh Allah.
Pendukung Mazhab Asy’ari mengatakan bahwa “Sebagaimana Dia telah menciptakan makhluk-makhluk, maka Diapun menciptakan “Supaya” untuk kemaslahatan tersebut”
Lalu Bagaimana Dengan Mazhab dan pandangan Anda???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar